Bone,

LAMELLONG POS : HOME »

 name   name

 name

 Ilustrasi




WATAMPONE, LAMELLONGPOS.COM -- Sebanyak 400 kubik kayu jenis merbau dan bayam yang status hukumnya terkatung-katung sudah hapir satu tahun, belum menemui titik terang alias mandek ditangan Penyidik Polres Bone' (29/10/2014)


Sekedar diketahui bahwa, kasus dugaan kayu ilegal milik dua pengusaha yakni,H Sumitro dan H Iskandar, berawal dari laporan salah satu LSM di daerah ini yang mempersoalkan dokumen angkutan kayu berkisar 100 kubik dari Pulau Halmahera.

Kayu jenis merbau tersebut diketahui milik H Iskandar, salah seorang pengusaha asal kota Watampone yang tinggal di Jalan Agussalim. Dokumen angkutan kayu jenis merbau berbentuk FAKO tersebut dianggap tidak sesuai peruntukannya.

Setelah itu Polres Bone melakukan pengembangan kasus, dan hal serupa ditemukan. Kayu milik H Sumitro berkisar 300 kubik ternyata juga dianggap bermasalah. Sebab yang dimiliki hanya Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) dan dianggap tidak sesuai peruntukannya.


Aktivis Mahasiswa Edy Naharto mengatakan pihak polres harus jantang menangani dan menyelesaikan kasus ini dengan cepat jangan ada konsfirasi dengan pengusaha nakal " tegasnya

Penulis : Ruz

LAMELLONGPOS.COM, BULUKUMBA - Masih ingat kisah ketegaran Risnawati alias Risna yang mendatangi pesta pernikahan mantan pacarnya?

Rupanya mahasiswi asal Kabupaten Bulukumba yang jadi buah bibir di sosial media dua pekan terakhir ini mengungkapkan penyebab kegagalan mereka duduk bersanding di pelaminan.
Menurut gadis berusia 22 tahun ini, Rais dan keluarganya sudah dua kali bermaksud melamarnya. Namun setiap keluarga lelaki yang dipacarinya sejak tujuh tahun lalu itu datang melamar, tidak terjadi kesepakatan soal uang panai.

“Karena tak ada kesepakatan itulah kami tak bisa bersatu,” tutur Risna saat ditemui di kampusnya, Stikes Panrita Bulukumba, Kabupaten Bulukumba, Rabu (28/10/2014).

Dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, uang panai merupakan prasyarat utama di mana calon mempelai laki-laki memberikan sejumlah uang kepada calon mempelai perempuan. Uang ini akan digunakan untuk belanja keperluan mempelai wanita mengadakan pesta pernikahan.

Besarnya uang panai ini sangat dipengaruhi oleh status sosial calon mempelai wanita. Uang panai juga biasanya diiringi permintaan mempelai perempuan berupa sompa (harta tidak bergerak seperti tanah atau kebun), dan erang-erang (asesoris resepsi pernikahan).

Sumber : Tribun timur

WATAMPONE.LAMELLONGPOS.COM - Aparat Kepolisian Resor (Polres) Bone akhirnya meringkus 10 pemuda putus sekolah yang diduga sebagai penikam Suherman Asis Alias Emmang bin Asis Jamaludin (20), warga Jalan Mangga, Kelurahan Macege, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone yang merupakan anggota kelompok geng motor Robeck. Kesepuluh pemuda ini diringkus di sebuah rumah kos di jalan DR Wahidin Sudirohusodo. Sabtu (25/10/2014) sekira pukul 02.00 Wita, dinihari tadi.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Bone, Ajun Komisaris Polisi Andi Asdar, hingga kini pihaknya baru menetapkan beberapa pemuda sebagai tersangka. Sebab, penyidik masih terus mendalami keterangannya. "Tetapi berdasarkan hasil identifikasi pengembangan penyidikan dari tersangka yang sudah ditangkap, dan ini masih kita dalami peran masing-masing," kata Andi Asdar, Sabtu (25/10/2014) siang tadi.

Mantan Kapolsek Majauleng ini menyebutkan, kesepuluh anggota geng motor Robeck yang diringkus dinihari tadi itu, masing-masing bernama, Ardiansyah alias Andu, Ahmad Syahrir Ramadhan alias Syahrir, Efendi Setya Wibowo alias Andi dan Andi Busri Ardian alias Handoko, Eldin alias Latoe, Aldi Marsyah. Budi Eka Reska,  Mahe Jainar dan Risman Arjun.

Selain mengamankan sepuluh anggota geng motor, polisi juga mengamankan tiga unit sepeda motor yang diduga digunakan pelaku saat melakukan penyerangan sebagai barang bukti.

Sumber : Bonepos

 Ilustrasi

WATAMPONE, LAMELLONGPOS -Kasus dugaan kayu ilegal milik dua pengusaha di Kabupaten Bone, yakni H. Iskandar, dan H. Sumitro Beberapa bulan yang lalu mandek ditangan Penyidik Polres Bone,(23/10/2014)

Sekedar informasi, bahwa kasus ini bermula ketika adanya laporan dari LSM terhadap dokumen angkutan kayu Milik H. Iskandar dalam bentuk Faktur Angkutan - Kayu Olahan (FA-KO) yang diduga tidak sesuai peruntukannya. Dari laporan ini terkuak informasi kalau adanya dugaan dokumen angkutan kayu selama ini digunakan oleh pengusaha tersebut tidak pernah menyetor PSDH-DR sehingga mengakibatkan kerugian negara bernilai puluhan Miliar.


Ketua LSM Lamellong Kabupaten Bone Muhammad Rusdi Menurutnya, indikasi adanya pelanggaran pada dokumen angkutan kayu milik kedua pengusaha tersebut, karena selain terdapat dokumen angkutan yang tidak sesuai peruntukannya, juga terdapat dokumen angkutan yang tidak dilengkapi dengan Surat Keterangan Sah Kayu Bulat (SKSKB) yang menurutnya merupakan patokan dalam menentukan besarnya pembayaran yang harus disetor ke negara dalam bentuk Provisi Sumber Daya Hutan dan Dana Reboisasi (PSDH-DR)


Kata rusdi, meskipun semua dokumen angkutan kayu milik kedua pengusaha ini diterbitkan pihak yang berwenang daerah asal, yakni Pulau Halmahera Selatan, Maluku Utara, namun, tidak menutup kemungkinan adanya campur tangan kedua pengusaha kayu tersebut dalam penerbitan dokumen,terangnya.

Dari pengembangan pihak kepolisian dalam hal ini Ali Tahir mantan Kasat Reskrim, pada saat itu' juga perna menyampaikan bahwa ditemukan dokumen dalam SKAU milik H. Sumitro yang juga diduga tidak sesuai peruntukannya karena kayu tersebut tidak berasal dari hutan hak, tapi justru berasal dari hutan alam sehingga dokumen SKAU tersebut dianggap tidak sesuai peruntukan.Ujar rusdi

tambahan'jadi kami minta kepada pihak Kepolisian agar kasus tersebut dapat diselesaikan secepatnya jangan ada konsfirasi dengan orang-orang tertentu"dalam kasus ini",tegasnya,




Penulis :Edy


 Ilustasi

WATAMPONE.LAMELLONGPOS.COM- Tono (26), Seorang pekerja swasta asal Kampung Bajo, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, terpaksa harus berurusan dengan pihak kepolisian, lantaran diduga telah melakukan tindak pidana pemerkosaan terhadap AY (20) warga Kelurahan Cellu, Kecamatan Tanete Riattang Timur.

Paur Kasubag Humas Polres Bone, Iptu Zulaeni R Tampilang yang ditemui diruang kerjanya, Kamis (23/10/2014) membenarkan adanya pelaporan terkait pemerkosaan tersebut dengan No LP/657/X/2014/SPKT/RES BONE, tanggal 22 Oktober 2014.

Dijelaskannya, berdasarkan pengakuan korban, dirinya diperkosa saat pelaku mengajak korban kerumah temannya yang berada dekat dengan Stadion Lapatau, dan dirumah tersebut pelaku memaksa korban untuk berhubungan layaknya suami istri. Perbuatan pelaku itu dilakukan sebanyak 3 kali hingga mengakibatkan korban hamil dua bulan.

"Laporan korban sudah kami terima, dan saat ini dalam proses penyelidikan, jika terbukti pelaku terancam Pasal 285 dengan hukuman 12 tahun penjara," tegas Ipda Zulaeni.

Sumber : Bonepos.com
LamellongPos

 Sebanyak 12.151 liter bahan bakar minyak (BBM) ilegal jenis solar yang raib di gudang penyimpanan Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Bone.


LAMELLONGPOS.COM, WATAMPONE -Kasus dugaan tindak pidana penyalahgunaan BBM bersubsidi berjenis solar yang ditangani penyidik Polres Bone sejak tahun 2012 lalu, mandek dan menimbulkan sorotan dari berbagai pihak yang mempertanyakan keberadaan BB tersebut.

Ketua LSM Lamellong Muhammad Rusdi menegaskan kasus tersebut harus dituntaskan secepatnya jangan dibiarakan berlarut-larut tidak ada penyelesaian, ini tugas penting yang harus diselesaikan Kasat Reskrim yang baru, jika tidak mampu lebih baik legowo mundur dari jabatanya,tegasnya'

Rusdi menambahakan pihak polres harus lebih serius memperhatikan ini sudah dinyatakan kasus mandek,dan keberadaan Barang bukti (BB) yang sudah tidak diketahui lagi, Polres Bone harus bertanggung jawab,kamis (23/10/2014 )'

sekedar diketahui bahwa sampai saat ini, BBM Solar sebanyak 12.151 liter yang ditemukan di Sungai Awang Cenrana, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone tiba-tiba sudah tidak berada ditempat penyimpanan Mapolres Bone,


Sebanyak 12 ton bahan bakar minyak (BBM) ilegal jenis solar, raib secara misterius dari gudang penyimpanan di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Bone.

BBM itu merupakan barang bukti hasil sitaan petugas Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Bone, dari operasi penertiban di Sungai Awang Cenrana, Kecamatan Cenrana,pada tahun 2012 lalu'

Penulis : Edy


 Kajari Bone

WATAMPONE.LAMELLONGPOS - Kasus dugaan korupsi pada proyek Gerakan Nasional (Gernas) Kakao di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, yang dilaksanakan pada tahun 2009-2010 lalu, mandek ditangan penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kejaksaan Negeri (Kejari) Watampone.

Tidak hanya itu, bahkan proyek yang menggunakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2009 dan 2010 ini sama sekali tidak pernah lagi diekspose pihak Kejari ke publik. Proyek yang menelan anggran sekitar Rp 7,31 miliar lebih itu masing-masing tersebar di 19 Kecamatan di Kabupaten Bone dengan jumlah Desa penerima sebanyak 108.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Watampone, M. Natsir Hamsah yang dikonfirmasi, Rabu (22/10/2014) di Bone mengatakan, jika saat ini kasus dugaan korupsi tersebut sudah masuk dalam tahap penyidikan dimana pihaknya telah menetapkan 5 orang tersangka.

"Masih berproses. Ada lima tersangka," ungkapnya saat ditemui di Rujab Ketua DPRD Bone, Jalan Makmur, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone.

Sekedar diketahui, kasus dugaan korupsi proyek APBN itu setidaknya sudah ditangani empat Kajari Bone termasuk M Natsir Hamsah yang saat ini menjabat sebagai Kajari. Dimana kasus yang bergulir sejak tahun 2011 lalu itu, Kasi Intel Kejari Bone, Sainuddin sebelumnya mengatakan, bahwa pihaknya telah menetapkan 11 tersangka dari 18 saksi yang telah diperiksa pihak Kejaksaan.

Dari informasi yang dihimpun, sejumlah tersangka yang ditetapkan Kejari Watampone dalam kasus tersebut, diantaranya Kasi Pengolahan dan Pemasaran DisHutbun Bone yang bertindak selaku Pimpinan Proyek, Andi Muhlis, Mantan Bendahara Dishutbun Bone, Yuliana Hamid, Direktur PT Anugrah Langgeng Santosa, dan 3 tersangka lainnya berasal dari Petugas Tekhnis lapangan.

Sumber : Bonepos
LamellongPos